Ponorogo (eastjavatraveler.com) – Sebanyak 41 peserta dipastikan ambil bagian dalam gelaran Reog Balon Carnival (RBC) 2026, sebuah festival balon udara yang diinisiasi Polres Ponorogo untuk menata tradisi masyarakat menerbangkan balon menjelang Idulfitri.
Kegiatan ini direncanakan berlangsung pada 29 Maret 2026 di Sirkuit Motocross Jorang Gandul, Desa Kadipaten, Kecamatan Babadan, Kabupaten Ponorogo. Event tersebut diharapkan menjadi wadah resmi bagi masyarakat untuk menyalurkan kreativitas membuat balon udara secara aman dan terorganisir.
Kepala Bagian Operasi (Kabag Ops) Polres Ponorogo, Kompol Edi Suyono, menjelaskan bahwa dari total 41 peserta yang terdaftar, 21 peserta berasal dari perwakilan kecamatan di Ponorogo, sedangkan 20 lainnya merupakan peserta ekshibisi dari Wonosobo, Jawa Tengah, daerah yang dikenal memiliki tradisi festival balon udara.
Menurut Edi, penyelenggaraan RBC menjadi langkah preventif untuk mengurangi praktik penerbangan balon udara secara liar yang selama ini kerap dilakukan masyarakat saat menjelang Lebaran. Tradisi tersebut sering kali disertai pemasangan ekor petasan renteng yang berpotensi menimbulkan bahaya, baik bagi penerbang balon maupun masyarakat di sekitarnya.
Dengan adanya festival resmi, masyarakat diharapkan tetap dapat mempertahankan tradisi budaya tersebut namun dalam bentuk yang lebih aman dan terkontrol.
Selain aspek keselamatan, kegiatan ini juga dinilai memiliki potensi besar dalam pengembangan sektor pariwisata daerah.
Kepala Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Pemuda dan Olahraga (Disbudparpora) Ponorogo, Judha Slamet Sarwo Edi, melihat karnaval balon udara sebagai daya tarik wisata baru yang bisa dikembangkan secara berkelanjutan.
Ia menilai tradisi balon udara sebenarnya memiliki nilai estetika dan budaya yang kuat. Jika dikemas secara profesional melalui event tahunan, festival tersebut berpotensi menarik wisatawan dan meningkatkan citra pariwisata Ponorogo.
Pemerintah daerah bahkan menargetkan dalam beberapa tahun ke depan, Reog Balon Carnival dapat berkembang menjadi agenda wisata berskala nasional.
Menurut Judha, konsistensi penyelenggaraan menjadi kunci untuk membangun reputasi festival tersebut. Dengan pelaksanaan yang rutin selama dua hingga tiga tahun, karnaval balon udara Ponorogo diyakini dapat memiliki daya tarik tersendiri di tingkat nasional.
Selain menjadi ajang kreativitas masyarakat, RBC juga diharapkan mampu memberikan dampak ekonomi bagi daerah. Kehadiran wisatawan saat penyelenggaraan acara berpotensi menggerakkan sektor usaha kecil, kuliner, hingga industri kreatif lokal.
Melalui kolaborasi antara aparat kepolisian dan pemerintah daerah, Reog Balon Carnival 2026 diharapkan tidak hanya menjadi solusi penataan tradisi balon udara, tetapi juga membuka peluang baru bagi pengembangan wisata budaya di Kabupaten Ponorogo. (tas)


